Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara - Koneksi Materi
Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara - Koneksi Materi
Oleh : SALAHUDDIN IDRIS
Peserta Pendidikan Guru Penggerak CGP angkatan 1 Group Bima 3
Persepsi awal saya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum mempelajari modul.1.1 tentang Refleksi filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara pada program pendidikan Guru Penggerak, tentu berbeda setelah mempelajari lebih rinci tentang filosofi Pendidikan Indonesia sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Jurusan Biologi dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang saya pilih saat saya duduk di bangku SMA ternyata tidak semua hal sesuai dengan harapan dan minat saya walaupun bapak saya waktu itu membebaskan saya untuk memilih jurusan.
Saya
terbawa arus pengaruh pola pikir teman-teman dan lingkungan bahwa jurusan IPA
lebih berkelas dan bergengsi dibanding jurusan IPS dan Bahasa. Jurusan IPS dan
bahasa terkesan sebagai “kelas buangan”.
Pada
saat menjalani kegiatan belajar di kelas X jurusan IPA Biologi sampai pada kenaikan kelas
XI saya termasuk siswa yang prestasi
akademiknya lumayan bagus karena masuk juara 10 besar.
Saya merasa bahagia dan nyaman karena bukan hanya faktor eksternal kegiatan di luar kelas saja yang membuat saya senang tetapi juga karena faktor internal seperti penataan kelas yang indah dan bersih serta guru-guru yang mengajar dan membimbing saya sebagian besar adalah guru-guru yang begitu baik, menyenangkan dan bersahabat.
Sesuatu
hal yang terasa sangat berpengaruh bagi saya adalah pada saat saya merasakan
nuansa tidak nyaman dan tertekan berada di kelas XI sampai dengan kelas XII. Saya
mendapati nuansa kelas dan guru-guru yang berbeda dengan kelas X dulu.
Kelas begitu sulit untuk dibikin indah dan nyaman ditambah lagi dengan kehadiran guru yang galak dan tidak bersahabat. Waktu itu mata pelajaran ilmu eksakta seperti matematika, kimia, fisika adalah mata pelajaran yang pada awalnya saya anggap penting dan menantang tetapi selalu saja menjadi sulit dan menegangkan saat saya duduk di kelas XI karena pendekatan pendikan dan pengajaran oleh guru-guru sebagai pendidik dan pengajar dengan pendekatan yang tidak bersahabat, menekan, galak dan egois.
Terbukti setelah duduk di kelas XI dan naik kelas XII sampai tamat SMA, minat belajar dan kenyamanan saya sebagai siswa menjadi terganggu dan merasa tidak merdeka. Akhirnya walaupun dinyatakan Lulus tetapi saya tidak masuk siswa berprestasi 10 besar lagi.
Fenomema tersebut secara substantif tetap saja masih kita temui bahkan saat saya menjadi seorang guru, walaupun sebenarnya pengalaman saya saat menjadi siswa cukup sebagai pembelajaran yang berharga. Persepsi dan pengalaman yang saya alami hanya salah satu penggalan cerita dari sekian banyak cerita tentang kondisi real pendidikan di negara kita tercinta.
Walaupun terdapat keterbatasan kondisi dan paradigma pola pikir pendidikan bangsa kita yang belum sepenuhnya menerapkan merdeka belajar sesuai filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara seperti tahun delapan puluhan zaman saya SD sampai SMA namun jika kita mulai dengan hal yang kecil seperti kegiatan pembelajaran yang dimulai dengan penanaman karakter budi pekerti ahlak mulia, penataan kelas yang indah dan bersih serta guru-guru yang mengajar dan membimbing dengan hati menjadikan siswa sebagai subyek dengan pendekatan holistik maka insyaaAllah langkah awal yang terlihat kecil akan menjadi aset bagi langkah-langkah besar sesuai Pendidikan Indonesia sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Perubahan Paradigma dan Prilaku
Perubahan paradigma dan prilaku yang saya rasakan setelah pembahasan Modul 1.1 dalam program pendidikan Guru Penggerak tentang Refleksi filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara yang dimulai dari diri saya sendiri berlanjut ke ekplorasi konsep, baik yang dilakukan melalui diskusi virtual, web meeting eksplorasi konsep bersama instruktur Ibu Purnamasari Pelupessy, maupun refleksi terbimbing kerangka filosofis merdeka belajar yang dibimbing oleh fasilitator Bapak Dr. B. Suparlan serta pendampingan oleh Bapak Dr. Salahuddin, S.Ag, M.Pd dan Ibu Ainun Asmawati, S.Pd, M.Pd. saya semakin tercerahkan yang berkaitan dengan Refleksi filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara.
Ki Hadjar Dewantara
(KHD) membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan
Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari
Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau
berfaedah untuk kecakapan hidup
anak secara lahir dan batin.
Sedangkan
Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan
kodrat yang dimiliki peserta didik agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota
masyarakat.
Jadi menurut KHD, “pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya.
Penguasaan diri
merupakan langkah yang harus dituju untuk tercapainya pendidikan yang
mamanusiawikan manusia. setiap manusia mampu menguasai dirinya, mereka akan
mampu juga menentukan sikapnya. maka akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa.Karakter inilah yang kita inginkan dari peserta didik kita.
Menurut KH Terdapat koneksi dua hal yang tidak terpisahkan antara pendidikan dan kebudayaan. Untuk mencapai kebudayaan yang kita mimpikan dan peradaban bangsa yg kita cita-citakan, fondasi utama adalah pendidikan, karena pendidikan adalah tempat bersemayam benih-benih kebudayaan. Inilah Keinginan yang kuat dari Ki Hajar Dewantara untuk generasi bangsa ini dan mengingatkan kita betapa pentingnya guru yang memiliki kelimpahan mentalitas, moralitas dan spiritualitas.
Penerapan Kegiatan
Kegiatan yang
akan dilakukan agar proses pembelajaran yang mencerminkan
pemikiran KHD dapat terwujud adalah dengan menerapkan Merdeka belajar
yang berorientasi pada siswa, melalui pendekatan pendidikan yang holistik.
“The holistic education is the educate which developes all the students potential in harmony, comprises intellectual, emotional, physical, social, esthetic, and spiritual potential. Yaitu Pendidikan yang menumbuh kembangkan seluruh potensi yang ada pada diri peserta didik secara seimbang yang meliputi, intelektual, emosi, fisik, sosial, seni dan potensi spiritualnya.
Dari konsep pemikiran KHD tersebut, sebagai Implementasi Pembelajaran Budaya Lokal sesuai dengan
pemikiran Kihajar
Dewantara yang sudah saya terapkan di SMAN
Negeri 1 Sape adalah sebagai berikut :
- Penanaman nilai karakter pada peserta didik sebelum pembelajaran dimulai dengan melakukan penataan kelas yang nyaman, bersih dari sampah dan penataan tata letak meja serta kursi di kelas yang rapi dan menyenangkan.
- Melatih mental dan psikomotor peserta didik dengan memberikan kesempatan untuk tampil mengajar di depan teman-temannya
- Penerapan Metode diskusi kelompok untuk menumbuhkan karakter gotong royong, mengungkapkan ide, bernalar kritis dan menghargai pendapat orang lain.
- Merespon keinginan siswa untuk belajar di ruang terbuka seperti di taman, gazebo dan di bawah pepohonan rindang.
- Menjadi salah satu nara
sumber terjadwal setiap Jum’at pagi untuk mengisi kegiatan Tausiah Iman dan
taqwa (imtaq) bagi seluruh peserta didik dan warga SMA Negeri 1 Sape di
lapangan SMA Negeri 1 Sape.
- Disiplin dan Keteladanan.
Pada saat diamanahkan mendapat tugas tambahan sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Hubungan Masyarakat (Humas) di SMA Negeri Sape diimplementasikan karakter disiplin dan keteladanan menyambut siswa setiap pagi hari. Para guru berbaris sepanjang sisi kiri dan kanan pintu gerbang sekolah untuk menyambut siswa bersalaman, senyum, salam, sapa hingga terasa suasana cair dan menyenangkan.
Rekomendasi
Berhubung masyarakat Kabupaten Bima mata pencaharian masyarakat yang dominan adalah Petani dan Nelayan maka kerangka pembelajaran yang sesuai dengan pemikiran KHD yang dapat diimplementasikan pada konteks lokal (budaya) daerah Kabupaten Bima adalah :
1. Kekuatan kodrat yang dimiliki peserta didik agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan maka pendekatan komunikasi dalam bahasa daerah Mbojo-Bima harus menjadi bagian dalam pendidikan.
P Pendekatan pembelajaran bagi peserta didik melalui pengenalan dan pengamalan Budaya dan tradisi etnis Bima yang dipresentasikan oleh kaum Tani dan Nelayan masyarakat Kabupaten Bima saat panen raya seperti : Seni kareku kandei dan Mpa’a Gantau serta tradisi hanta uma panggu atau gotong royong membantu memindahkan rumah khas Mbojo-Bima, pacoa jara atau pacuan kuda
3.
Berhubungan dengan Pengajaran kecakapan hidup
bagi peserta didik dan masyarakat sesuai KHD, maka life skill teknologi tepat
guna yang berhubungan dengan pertanian bawang merah dan ikan hasil tangkapan
khas nelayan Sape-Bima seperti produksi Bawang Goreng khas Bima dan kemasan
Abon Ikan Laut khas Bima sebagai upaya untuk pemberdayaan potensi sumber daya
alam unggulan masyarakat Bima adalah suatu yang sangat direkomendasikan untuk
diimplementasikan.
Dengan demikian, Implementasi Pembelajaran dan proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran Kihajar Dewantara adalah proses pembelajaran yang dilakukan bukan saja semata-mata agar anak bisa bersekolah, ujian hasilnya baik dan lain-lain tetapi juga suatu proses pembelajaran dan pekerjaan yang menjadikan anak bangsa menjemput peradaban itu yaitu perpaduan antara value substantif yg terkandung dalam nilai pendidikan dan kebudayaan.
*****
Referensi :
Modul
1.1 Learn Management System Pendidikan Guru Penggerak 2020 Angkatan 1
https://www.kompasiana.com/salahuddinidris/5f8e2c06d541df131a4b2ef2/implementasi-pembelajaran-pada-konteks-budaya-lokal-masyarakat-bima-sesuai-dengan-pemikiran-ki-hajar-dewantara








Komentar
Posting Komentar