Artikel : Aksi Nyata Pendidikan Indonesia sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara

Artikel : 

Aksi Nyata Pendidikan Indonesia sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara

 Oleh :  Salahuddin
PGP-1-Kabupaten Bima-SALAHUDDIN-1.1-Aksi Nyata


Latar Belakang

          Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: "menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat  menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan  tumbuhnya kekuatan kodrat anak”

Menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani.  Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal. Dalam proses ‘menuntun’ anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

Ki Hajar Dewantara juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka namun tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, “waspadalah, carilah barang-barang yang bermanfaat untuk kita, yang dapat menambah kekayaan kita dalam hal kultur lahir atau batin. Jangan hanya meniru. Hendaknya barang baru tersebut dilaraskan lebih dahulu”. KHD menggunakan ‘barang-barang’ sebagai simbol dari tersedianya hal-hal yang dapat kita tiru, namun selalu menjadi pertimbangan bahwa Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.

Ki Hadjar Dewantara membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Menurut Ki Hajar Dewantara, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding)memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Menurut Ki Hajar Dewantara,  “pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”.

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Ki Hajar Dewantara memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan


  Eksplorasi konsep dan refleksi diri

             Sebelumnya saya beranggapan bahwa guru harus menjadi sentral kegiatan pembelajaran dan mendominasi proses pembelajaran sebagai pengendali untuk mencapai target kurikulum yang telah ditetapkan, sedangkan peserta didik seperti kertas kosong yang dapat dibentuk sesuai dengan keinginan.

Setelah mendalami pendidikan Indonesia menurut pemikiran Ki Hajar Dewantara ternyata peserta didik memiliki kodrat dan kompetensi yang dibawa sejak lahir. Sehingga guru selayaknya memposisikan dirinya sebagai fasilitator yang memotivasi, menuntun dan mendorong tumbuh kembang talenta peserta didik.

Pendidik menuntun segala kodrat dan kompetensi yang ada pada peserta didik agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Menuntun artinya anak diberikan kebebasan namun guru sebagai “pamong” dalam memberi tuntunan dan arahan agar peserta didik tidak kehilangan arah. Seorang pamong dapat memberikan tuntunan agar peserta didik dapat merdeka belajar

Saya mengajar mata pelajaran Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK) di SMA Negeri 1 Sape Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat sejak tahun 2004. Selama lebih enam belas tahun saya mengajar saya melihat terdapat masalah yang dialami sekolah tempat saya mengajar. Diantara permasalahan tersebut adalah:

1.    Arah kebijakan pendidikan khususnya di Kabupaten Bima provinsi Nusa Tenggara Barat yang sangat mempengaruhi kebijakan sekolah diantaranya kurang pemahaman dan implementasi pendidikan Indonesia sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara yang seyogyanya harus tersosialisasi dan diterapkan dengan baik.

2.    Praktik  pengajaran  sebagian besar masih berorientasi pada guru, belum berorientasi pada peserta didik.

3.    Guru-guru sudah berada di zona nyamannya masing-masing, sehingga miskin inovasi, sulit melakukan perubahan

4.    Penyelenggaraan pendidikan masih tercerabut dari akar kebudayaan lokal sehingga peserta didik banyak yang tidak memahami  kearifan lokal budaya setempat

5.    Belum mempraktikkan Sekolah Ramah Anak

 

  Implementasi Kegiatan

            Sebagai solusi alternatif untuk penyelesaian sebagian permasalahan tersebut, maka kegiatan yang dapat saya akukan adalah langkah-langkah sebagai berikut :

·         Membuat  kesepakatan dan komunikasi positif dalam rangka mewacanakan pendidikan Indonesia sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara kepada semua pihak terkait khususnya Kepala Sekolah, teman sejawat rekan-rekan guru, dan komite sekolah

·         Melakukan pengimbasan pendidikan Indonesia sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara di SMA Negeri 1 Sape Kabupaten Bima. Dalam kondisi saat ini, masih belum dapat dilakukan secara maksimal karena masih dalam suasana pandemi Covid-19. Untuk itu deseminasi pendidikan Indonesia sesuai pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara kepada pihak terkait dilakukan melalui artikel, infografis, dan video yang saya sebar via WA Grup sekolah.

·         Melakukan kesepakatan dan komunikasi positif  kepada pihak terkait tentang Sekolah Ramah Anak.

·         Melakukan refleksi dan mengimplementasikan merdeka belajar yaitu pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik melalui pendekatan holistik, yaitu pendidikan yang menumbuh kembangkan seluruh potensi yang ada pada diri peserta didik secara seimbang yang meliputi, intelektual, emosi, fisik, sosial, seni dan potensi spiritualnya secara harmoni, mulai dari diri sendiri kemudian diimbaskan serta mendapatkan umpan balik dari teman sejawat dan pihak terkait.

·         Eksplorasi potensi budaya masyarakat Bima untuk bisa dijadikan sebagai instrumen pendukung dan model pembelajaran.


Referensi :

-       https://sman1sapebima.blogspot.com/2020/10/kesimpulan-dan-refleksi-pemikiran-ki.html

-       Modul 1.1 Learn Management System Pendidikan Guru Penggerak 2020 Angkatan 1


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Capaian satu tahun Kepala SMAN 1 Sape tahun 2018-2019

Pertama kali sejak 30 tahun berdiri, SMAN 1 Sape torehkan tinta emas Juara 1 Olimpiade Sains Astronomi sebagai Duta NTB ke Tingkat Nasional

Kepala Sekolah SMAN 1 Sape, Memenuhi Janjinya, Memberlakukan sistem Absensi Digital FacePrint dan FinggerPrint